08 Januari 2009

1 Syawal 1430 Hijriyah = 20 September 2009 (?)

Artikel ini akan membahas tentang penentuan 1 syawal 1430 Hijriyah (Tahun 2009 Masehi) menggunakan metode hisab-rukyat. Yang patut diingat adalah isi artikel ini hanya merupakan sebuah referensi tambahan, bukan merupakan sebuah keputusan mutlak yang harus diikuti oleh umat muslim sedunia. Sebelum kita menginjak pada bagian inti artikel, ada baiknya penulis menerangkan tentang alat-alat yang digunakan, definisi rukyat, hilal, dan ijtimak, serta kriteria untuk menentukan bulan sabit.
Sebagai instrumen ‘penelitian’, penulis menggunakan aplikasi KStars yang berjalan pada sistem operasi Ubuntu 8.04 Hardy Heron di notebook penulis. KStars disebut desktop planetarium. Tidak seperti planetarium raksasa di Taman Ismail Marzuki Jakarta, KStars hanya berupa program komputer simulasi alam semesta dalam layar desktop. Meskipun hanya menggunakan komputer desktop, KStars dapat memperlihatkan isi alam semesta secara lengkap dan detail (Infolinux, 2008).
‘Rukyat’ berasal dari bahasa Arab, yang berarti 'melihat', sedangkan 'hilal' adalah bulan sabit yang pertama terlihat setelah terjadinya 'ijtimak'. 'Ijtimak' sendiri adalah bulan baru (sering juga disebut sebagai 'bulan mati').
Ada beberapa kriteria untuk menentukan bulan sabit atau rukyatul hilal, yaitu :
1.Rukyatul Hilal. Andre Danjon, seorang astronom Perancis pada 1930-an menyimpulkan bahwa hilal tidak akan dapat diamati jika jarak minimum elongasi Bulan dan Matahari kurang dari 7°. Sementara itu, T. Djamaluddin, seorang anggota Badan Hisab dan Rukyat Indonesia, menyatakan bahwa: Pertama, umur hilal minimum 8 jam sejak ijtimak. Kedua, tinggi bulan minimum tergantung pada beda azimut bulan-matahari. Bila bulan berada lebih dari 6 derajat tinggi minimumnya 2,3 derajat. Tetapi bila bulan berada tepat diatas matahari, tinggi minimumnya 8,3 derajat (http://media.isnet.org/isnet/djamal/redefinisi.html). Artikel ini memakai prinsip yang dikemukakan oleh Djamaluddin.
2.Imkanurrukyah. Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanurrukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam yang menyatakan: Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:
a.Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
b.Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°, atau
c.Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas ijtimak berlaku.
3.Wujudul Hilal. Ada 2 prinsip dalam Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah: ijtima' qablal ghurub, yaitu ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam; dan moonset after sunset, yaitu bulan terbenam setelah matahari terbenam. Bila kedua prinsip diatas terpenuhi, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan pada kalender hijriyah tanpa melihat besarnya sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam.
4.Rukyah Global. Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 wilayah (sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar): Zona Timur, meliputi 180° BT ~ 20° BB; dan Zona Barat, meliputi 20° BB ~ Benua Amerika.
Berikut ini adalah tabel hasil hijab-rukyat menggunakan Kstars:
Area observasi: Jakarta, Indonesia
Waktu observasi:18 September 2009 Sore

Sunset
Moonset
Jam
17:49
17:22
Ketinggian Bulan
-7˚


Waktu observasi:19 September 2009 Sore

Sunset
Moonset
Jam
17:49
18:14
Ketinggian Bulan
5˚ 19'


Karena penulis berasumsi bahwa tanggal 20 September 2009 kita telah masuk 1 Syawal 1430 H, maka penulis menset waktu Kstars ke tanggal 19 September 2009 sore hari. Bersamaan dengan terbenamnya matahari pada pukul 17:49, bulan berada diatas cakrawala dengan ketinggian 5˚ 19'. Dari tabel tersebut dapat dibaca juga bahwa bulan terbenam setelah matahari terbenam (moonset after sunset). Berdasarkan kriteria dari Rukyatul Hilal, Wujudul Hilal, dan Imkanur Rukyat dapat disimpulkan bahwa esok harinya, yaitu tanggal 20 September 2009, adalah 1 Syawal 1430 H.
Untuk memastikan bahwa 20 September adalah 1 Syawal, maka penulis menset mundur waktu ke tanggal 18 September 2009, pada saat matahari terbenam (yaitu pukul 17:49). Pada saat ini, ketinggian bulan adalah -7˚. Artinya, bulan berada di bawah cakrawala sehingga mustahil bagi kita untuk melihatnya. Oleh karena itu, esok harinya, yaitu tanggal 19 September 2009, Jakarta belum menginjak bulan Syawal.
Mengingat bahwa penentuan 1 Syawal tidak hanya dilihat dari satu tempat, maka kita perlu melihat status dari kota lain di Indonesia atau bahkan dari negara lain, semisal Arab Saudi. Berikut ini adalah tabel hasil pengamatan dari Riyadh, Saudi Arabia:
Waktu observasi:19 September 2009 Sore

Sunset
Moonset
Jam
17:52
18:05
Ketinggian Bulan
2˚ 12'

Dari tabel tersebut, jelas bahwa 1 Syawal 1430 Hijriyah di Saudi Arabia juga jatuh pada tanggal 20 September 2009 karena kriteria ketinggian minimum dan moonset after sunset telah terpenuhi.
Dari penjelasan saya yang panjang lebar tadi itu (he..3x), dapat ditarik kesimpulan bahwa bila mengacu pada rukyatul hilal, wujudul hilal, imkanur rukyat, dan rukyat global, maka 1 Syawal 1430 H jatuh pada tanggal 20 September 2009. Artikel ini dibuat oleh orang yang awam ilmu falak (astronomi) namun melek teknologi. Jadi bila ada diantara Anda yang mengerti ilmu falak dan hasil Anda beda dengan hasil saya, silahkan kemukakan pendapat anda/tanyakan di forum yang tersedia.